Selasa, 13 Agustus 2013



               MUSIK : PERMULAAN DIBELAKANG


Music, sesuatu hal yang besar menurutku. Karena dari music aku belajar beberapa hal. Dari kegigihan, kesungguhan dan percaya diri. Aku percaya diriku sekarang terjadi karena musik, dan musiklah yang aku bisa pegang saat ini. Walau sekarang impianku tak akan terwujud, suatu saat nanti akan kuajarkan anakku tentang sebuah music yang sesungguhnya.

Aku belajar music dimulai saat aku melihat temanku yang bisa memainkan gitar di sekolah, inspirasi pertamaku. Aku belajar gitar pertama kali dirumah nenekku, tak jauh dari rumahku. Belajar sendiri bukanlah hal yang mudah, ini kuakui saat aku belajar kunci-kunci sederhana pada saat itu, tak bisa menekan, jari-jariku kaku tan perih. Melihat kesungguhan diriku belajar memainkan gitar, ayahku kemudia membelikan sebuah gitar klasik. Menurut sumber yang ku dengar, gitar tersebut ayahku beli pada saat pengamen mabuk sedang mengamen di warung ayahku. Gitar pertamaku, tak pernah kulupakan jasanya sampai saat ini. Aku belajar memainkan gitar secara mencuri-curi, yaitu melihat temanku bermain dan mempraktekkannya dirumah. Belajar kunci dasar dan lain-lain hingga saat itu aku menemukan sesuatu hal yang sangat mengispirasiku dalam hal musik, cinta. Aku pernah mendengar pepatah lama, bermainlah gitar maka wanita akan bertekuk lutut di depanmu. Saat itu aku belajar secara otodidak, dengan cara membaca buku gitar dan melihat orang bermain. Ya, tak seorang pun yang pernah mengajariku bermain gitar. Hingga aku diajak pertama kali latihan band, betapa senangnya hatiku mencoba sebuah peralatan band, saat itu aku di kelas 2 smp. Mungkin saat itu saat yang paling berkesan di hidupku, dimana aku sangat ingin membentuk sebuah band yang telah memberikan cerita tersendiri di dalam hidupku.

 EXORDINARY!!! EXORDINARY!!! Ingin aku mendengar orang-orang berteriak histeris memanggil band idolanya. Ya, mimpiku seperti itu, band yang ku bentuk dari nol dengan skill pas pasan aku nekat membuat sebuah grup band dimana saat itu aku, ihsan dan azri sebagai personilnya. Aku ingat saat pertama kali latihan band bersama mereka berdua dan lagu yang pertama kali kubawakan yaitu lagu percayakan dari band lyla. Ah, aku tertawa saat ini mengenang itu. Saat itu ihsan tidak memainkan satu alat music apapun karena dia tidaak punya satu pun kemampuan bermusik. Mungkin karena ia mempunyai keinginan besar saat itu dia berusaha belajar bermain bass dari gitar pertamanya yang ia belai dengan tetanggaku. Kuajarkan ia kunci dasar dan ia langsung bisa satu minggu kemudian, kemudian tahap kunci-kunci bass dan ia juga sudah mulai bisa. Bila ihsan belajar dari nol, lain cerita dengan azri. Dia memulai bermain drum mulai smp. Wlaupun dai sudah lama namun ia masih terkendala tempo yang sangat susah dia kuasai, aku bingung harus bagaimana bila membawakan lagu yang slow yang dia sangat susah mengikutinya, berantakan tepatnya. Bila membawakan lagu yang ngebeat dia memang jagonya tapi ya itu lah, jeda waktu dan sela dari lagu sering melenceng. Tapi bagiku dia tetap drummer terhebat bagiku, dia juga penyemangatku dalam membangun sebuah band. Aku masih mngingat saat kami pertama kali ikut festival band di salah satu sma swasta di jambi. Saat itu azri yang paling bersemangat ikut dlam festival. Aku bingung dan tidak pernah membayangkan band yang aku bentuk akan secepat itu masuk festival. Mungkin lagu yang paling tepat saat itu dalaha lagu basket case dari greenday, musiknya ngebeat dan tak terlalu banyak tekhnik dan hanya mengandalkan ‘kebisingan’ dari distorsi gitar dan drum. Ah, beginikah menjadi anak band itu? Kembali aku mengenalkan lagu itu pada azri dan ihsan, mereka setuju. Latihan hanya berjalan seminggu sehari dua kali, pulang sekolah dan malam hari. Sudah berapa banyak tenaga dan uang yang sudah kami keluarkan untuk itu, begitulah adanya hingga saat itu tiba. Aku gugup, demam panggung tepatnya. Sebelumnya juga aku bingung dengan nama band yanh harus kupilih. EXORDINARY kutemukan saat aku melihat iklan di tv, iklan rokok. Ada istilah extraordinary, sesuatu yang lebih dan tak biasa, dan saat itu ku singkat menjadi exordinary dengan filosofi kami bertiga bukan seorang yang tidak biasa yang ingin bermusik, ya itu lah filosofinya. Aku melihat band band lain tampil bagus dan keren, aku makin gugup, semakin kusembunyikan semakin aneh raut mukaku, ihsan sakit perut. Tiba saat nama exordinary dipanggil, aku tersentak dan langsung ke panggung. Yang ada dipikiranku saat itu adalaah segera cepat berakhir penderitaan ini. 5 menit diatas menjatuhkan harga diri yang telah kujaga dari aku datang tadi, aku gugup demam panggung. Shitt! Aku keceplosan saat membuka dengan menyebutkan kami dari smkn 4, bodoh. Azri cepat-cepat mengingatkanku dari belakang. Belum habis penderitaanku karena keceplosan, aku salah memasukkan efek gitar yang kukira distorsi ternyata efek reage, aku dihakimi oleh mata mereka. Terserah, dalam hatiku berkata, yang penting kita sudah tampil dan pengalamanku bertambah. Saat kami turun panggung aku mendengar ada yang berteriak netral netral, band netral nih. Aku sedikit tersenyum, malunya diriku. Dan mulai saat itu aku bertekad ingin memajukan bandku ini, dan mungkin bila kuambil keputusan saat itu aku saat ini sudah menjadi musisi professional, kenyataan tidak demikian. Nyawaku belum kembali.

Jumat, 09 Agustus 2013


                                   PUASA DI BULAN SYAWAL


Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ …
“Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, …” (HR. Tirmidzi, hadits ini hasan shohih)
Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits Qudsi:
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)
Oleh karena itu, untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’ala, maka lakukanlah puasa sunnah setelah melakukan yang wajib. Di antara puasa sunnah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam anjurkan setelah melakukan puasa wajib (puasa Ramadhan) adalah puasa enam hari di bulan Syawal.
Dianjurkan untuk Puasa Enam Hari di Bulan Syawal
Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Hal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sahabat Abu Ayyub Al Anshoriy, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Pada hadits ini terdapat dalil tegas tentang dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawal dan pendapat inilah yang dipilih oleh madzhab Syafi’i, Ahmad dan Abu Daud serta yang sependapat dengan mereka. Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah menyatakan makruh. Namun pendapat mereka ini lemah karena bertentangan dengan hadits yang tegas ini. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56)
Puasa Syawal, Puasa Seperti Setahun Penuh
Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)
“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)
Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465). Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat ini bagi umat Islam.
Apakah Puasa Syawal Harus Berurutan dan Dilakukan di Awal Ramadhan Syawal?
Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.” Oleh karena itu, boleh saja seseorang berpuasa syawal tiga hari setelah Idul Fithri misalnya, baik secara berturut-turut ataupun tidak, karena dalam hal ini ada kelonggaran. Namun, apabila seseorang berpuasa syawal hingga keluar waktu (bulan Syawal) karena bermalas-malasan maka dia tidak akan mendapatkan ganjaran puasa syawal.
Catatan: Apabila seseorang memiliki udzur (halangan) seperti sakit, dalam keadaan nifas, sebagai musafir, sehingga tidak berpuasa enam hari di bulan syawal, maka boleh orang seperti ini meng-qodho’ (mengganti) puasa syawal tersebut di bulan Dzulqo’dah. Hal ini tidaklah mengapa. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 3/466)
Tunaikanlah Qodho’ (Tanggungan) Puasa Terlebih Dahulu
Lebih baik bagi seseorang yang masih memiliki qodho’ puasa Ramadhan untuk menunaikannya daripada melakukan puasa Syawal. Karena tentu saja perkara yang wajib haruslah lebih diutamakan daripada perkara yang sunnah. Alasan lainnya adalah karena dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammengatakan, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” Jadi apabila puasa Ramadhannya belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.
Apabila seseorang menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu dan masih ada tanggungan puasa, maka puasanya dianggap puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak mendapatkan ganjaran puasa Syawal karena kita kembali ke perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” (Lihat Syarhul Mumthi’, 3/89, 100)
Catatan: Adapun puasa sunnah selain puasa Syawal, maka boleh seseorang mendahulukannya dari mengqodho’ puasa yang wajib selama masih ada waktu lapang untuk menunaikan puasa sunnah tersebut. Dan puasa sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Tetapi perlu diingat bahwa menunaikan qodho’ puasa tetap lebih utama daripada melakukan puasa sunnah. Hal inilah yang ditekankan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab beliau Syarhul Mumthi’, 3/89 karena seringnya sebagian orang keliru dalam permasalahan ini.
Kita ambil permisalan dengan shalat dzuhur. Waktu shalat tersebut adalah mulai dari matahari bergeser ke barat hingga panjang bayangan seseorang sama dengan tingginya. Kemudian dia shalat di akhir waktu misalnya jam 2 siang karena udzur (halangan). Dalam waktu ini bolehkah dia melakukan shalat sunnah kemudian melakukan shalat wajib? Jawabnya boleh, karena waktu shalatnya masih lapang dan shalat sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Namun hal ini berbeda dengan puasa syawal karena puasa ini disyaratkan berpuasa ramadhan untuk mendapatkan ganjaran seperti berpuasa setahun penuh. Maka perhatikanlah perbedaan dalam masalah ini!
Boleh Berniat di Siang Hari dan Boleh Membatalkan Puasa Ketika Melakukan Puasa Sunnah
Permasalahan pertama ini dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menemui keluarganya lalu menanyakan: “Apakah kalian memiliki sesuatu (yang bisa dimakan, pen)?” Mereka berkata, “tidak” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammengatakan, “Kalau begitu sekarang, saya puasa.” Dari hadits ini berarti seseorang boleh berniat di siang hari ketika melakukan puasa sunnah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang berpuasa sunnah kemudian beliau membatalkannya sebagaimana dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dan terdapat dalam kitab An Nasa’i. (Lihat Zadul Ma’ad, 2/79)
Semoga dengan sedikit penjelasan ini dapat mendorong kita melakukan puasa enam hari di bulan Syawal, semoga amalan kita diterima dan bermanfaat pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallam.
5 Syawal 1428 H (Bertepatan dengan 17 September 2007)
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

Jumat, 02 Agustus 2013

First post





Hai, postingan pertama nih. Namanya juga pemula, harap maklum aja kalo agak berantakan. Disini gue cuma pengen ngeshare segala bentuk ide dan pikiran gue jepada dunia , yang mungkin bisa di terima dan kalaupun nggak ya udah, namanya juga usaha.

Hari ini gue lagi dijambi, baru beli modem dan langsung online, hahaha. enak ya jambi, ada sinyal 3G, kenceng masbroooo.. maklum gue kan orang dusun yang cuma ada jaringan EDGE. tau sendiri deh EDGE kan alon-alon asal kelakon. wkwkwkwkwk.
oke deh, gini aja . namanya juga postingan pertama. agak grogi masbro/mbakbrooo.... monggo