MUSIK : PERMULAAN DIBELAKANG
Music, sesuatu hal yang besar menurutku. Karena
dari music aku belajar beberapa hal. Dari kegigihan, kesungguhan dan percaya
diri. Aku percaya diriku sekarang terjadi karena musik, dan musiklah yang aku
bisa pegang saat ini. Walau sekarang impianku tak akan terwujud, suatu saat
nanti akan kuajarkan anakku tentang sebuah music yang sesungguhnya.
Aku belajar music dimulai saat aku melihat
temanku yang bisa memainkan gitar di sekolah, inspirasi pertamaku. Aku belajar
gitar pertama kali dirumah nenekku, tak jauh dari rumahku. Belajar sendiri
bukanlah hal yang mudah, ini kuakui saat aku belajar kunci-kunci sederhana pada
saat itu, tak bisa menekan, jari-jariku kaku tan perih. Melihat kesungguhan
diriku belajar memainkan gitar, ayahku kemudia membelikan sebuah gitar klasik.
Menurut sumber yang ku dengar, gitar tersebut ayahku beli pada saat pengamen
mabuk sedang mengamen di warung ayahku. Gitar pertamaku, tak pernah kulupakan
jasanya sampai saat ini. Aku belajar memainkan gitar secara mencuri-curi, yaitu
melihat temanku bermain dan mempraktekkannya dirumah. Belajar kunci dasar dan
lain-lain hingga saat itu aku menemukan sesuatu hal yang sangat mengispirasiku
dalam hal musik, cinta. Aku pernah mendengar pepatah lama, bermainlah gitar
maka wanita akan bertekuk lutut di depanmu. Saat itu aku belajar secara
otodidak, dengan cara membaca buku gitar dan melihat orang bermain. Ya, tak
seorang pun yang pernah mengajariku bermain gitar. Hingga aku diajak pertama
kali latihan band, betapa senangnya hatiku mencoba sebuah peralatan band, saat
itu aku di kelas 2 smp. Mungkin saat itu saat yang paling berkesan di hidupku,
dimana aku sangat ingin membentuk sebuah band yang telah memberikan cerita
tersendiri di dalam hidupku.
EXORDINARY!!! EXORDINARY!!! Ingin aku
mendengar orang-orang berteriak histeris memanggil band idolanya. Ya, mimpiku
seperti itu, band yang ku bentuk dari nol dengan skill pas pasan aku nekat
membuat sebuah grup band dimana saat itu aku, ihsan dan azri sebagai
personilnya. Aku ingat saat pertama kali latihan band bersama mereka berdua dan
lagu yang pertama kali kubawakan yaitu lagu percayakan dari band lyla. Ah, aku
tertawa saat ini mengenang itu. Saat itu ihsan tidak memainkan satu alat music
apapun karena dia tidaak punya satu pun kemampuan bermusik. Mungkin karena ia
mempunyai keinginan besar saat itu dia berusaha belajar bermain bass dari gitar
pertamanya yang ia belai dengan tetanggaku. Kuajarkan ia kunci dasar dan ia
langsung bisa satu minggu kemudian, kemudian tahap kunci-kunci bass dan ia juga
sudah mulai bisa. Bila ihsan belajar dari nol, lain cerita dengan azri. Dia
memulai bermain drum mulai smp. Wlaupun dai sudah lama namun ia masih
terkendala tempo yang sangat susah dia kuasai, aku bingung harus bagaimana bila
membawakan lagu yang slow yang dia sangat susah mengikutinya, berantakan
tepatnya. Bila membawakan lagu yang ngebeat dia memang jagonya tapi ya itu lah,
jeda waktu dan sela dari lagu sering melenceng. Tapi bagiku dia tetap drummer
terhebat bagiku, dia juga penyemangatku dalam membangun sebuah band. Aku masih
mngingat saat kami pertama kali ikut festival band di salah satu sma swasta di
jambi. Saat itu azri yang paling bersemangat ikut dlam festival. Aku bingung
dan tidak pernah membayangkan band yang aku bentuk akan secepat itu masuk
festival. Mungkin lagu yang paling tepat saat itu dalaha lagu basket case dari
greenday, musiknya ngebeat dan tak terlalu banyak tekhnik dan hanya
mengandalkan ‘kebisingan’ dari distorsi gitar dan drum. Ah, beginikah menjadi
anak band itu? Kembali aku mengenalkan lagu itu pada azri dan ihsan, mereka
setuju. Latihan hanya berjalan seminggu sehari dua kali, pulang sekolah dan
malam hari. Sudah berapa banyak tenaga dan uang yang sudah kami keluarkan untuk
itu, begitulah adanya hingga saat itu tiba. Aku gugup, demam panggung tepatnya.
Sebelumnya juga aku bingung dengan nama band yanh harus kupilih. EXORDINARY
kutemukan saat aku melihat iklan di tv, iklan rokok. Ada istilah extraordinary,
sesuatu yang lebih dan tak biasa, dan saat itu ku singkat menjadi exordinary
dengan filosofi kami bertiga bukan seorang yang tidak biasa yang ingin
bermusik, ya itu lah filosofinya. Aku melihat band band lain tampil bagus dan
keren, aku makin gugup, semakin kusembunyikan semakin aneh raut mukaku, ihsan
sakit perut. Tiba saat nama exordinary dipanggil, aku tersentak dan langsung ke
panggung. Yang ada dipikiranku saat itu adalaah segera cepat berakhir
penderitaan ini. 5 menit diatas menjatuhkan harga diri yang telah kujaga dari
aku datang tadi, aku gugup demam panggung. Shitt! Aku keceplosan saat membuka
dengan menyebutkan kami dari smkn 4, bodoh. Azri cepat-cepat mengingatkanku
dari belakang. Belum habis penderitaanku karena keceplosan, aku salah
memasukkan efek gitar yang kukira distorsi ternyata efek reage, aku dihakimi
oleh mata mereka. Terserah, dalam hatiku berkata, yang penting kita sudah
tampil dan pengalamanku bertambah. Saat kami turun panggung aku mendengar ada
yang berteriak netral netral, band netral nih. Aku sedikit tersenyum, malunya
diriku. Dan mulai saat itu aku bertekad ingin memajukan bandku ini, dan mungkin
bila kuambil keputusan saat itu aku saat ini sudah menjadi musisi professional,
kenyataan tidak demikian. Nyawaku belum kembali.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar